Menurut Sugiri (2009: 43) menyatakan bahwa piutang adalah tagihan baik kepada individu-individu maupun kepada perusahaan lain yang akan diterima dalam bentuk kas. Sedangkan menurut Warren (2005: 356) istilah piutang (receivable) meliputi semua klaim dalam bentuk uang terhadap pihak lainnya, termasuk individu, perusahaan, atau organisasi lainnya.
Menurut Sulistiawan (2006: 80), piutang usaha terjadi ketika perusahaan melakukan penjualan, namun belum menerima uang sebagai hasil penjualannya.
Sedangkan menurut Kieso (2007: 348), dalam sebagian besar transaksi piutang, jumlah yang harus diakui adalah harga pertukaran (the exchange price) adalah jumlah terhutang dari debitur (seorang pelanggan atau peminjam) dan umumnya dibuktikan dengan beberapa dokumen bisnis, biasanya berupa faktur (invoice). Faktor yang bisa memperumit pengukuran harga pertukaran adalah ketersediaan diskon (diskon dagang dan diskon tunai).
Jenis-jenis Piutang
Pengklasifikasian piutang dilakukan untuk memudahkan pencatatan transaksi yang mempengaruhinya.
1) Piutang Usaha (Account Receivable) Menurut Skousen dan Stice (2012:361) Piutang Usaha adalah Piutang yang dihubungkan dengan aktivitas operasi normal sebuah bisnis, yaitu penjualan kredit barang atau jasa untuk pelanggan. Piutang usaha adalah suatu jumlah pembelian kredit dari pelanggan, atau piutang timbul sebagai akibat dari penjualan barang atau jasa yang di lakukan secara kredit. Pada umumnya Piutang biasanya di perkirakan akan tertagih dalam waktu 30 sampai 60 Hari. Secara Umum, jenis piutang ini merupakan piutang terbesar yang di miliki perusahaan.
2) Wesel Tagih (notes receivable) Menurut Skousen dan Stice (2012:361) Piutang wesel adalah piutang yang di terbitkan oleh janji tertulis untuk membayar sejumlah uang tertentu pada tanggal tertentu. Wesel Tagih adalah surat formal yang diterbitkan sebagai bentuk pengukuran utang. Wesel tagih biasanya memiliki waktu tagih antara 60-90 hari atau lebih lama serta mewajibkan pihak yang berhutang untuk membayar bunga. Wesel tagih dan piutang usaha yang disebabkan kerena transaksi penjualan biasa di sebut dengan piutang dagang (trade account).
3) Piutang lain-lain (other receivable) Skousen dan Stice (2001:361) Piutang lain-lain adalah piutang apapun yang muncul dari transaksi yang tidak secara langsung berhubungan dengan aktivitas operasi normal sebuah bisnis. Piutang lain-lain adalah mencakup selain piutang dagang. Contoh : piutang bunga, piutang gaji, uang muka karyawan, dan restitusi pajak. Secara umum bukan berasal dari kegiatan operasional perusahaan, oleh karena itu, piutang jenis ini di klasifikasikan dab di laporkan pada bagian yang secara terpisah di neraca.
Faktor – faktor yang mempengaruhi piutang tak tertagih
Piutang sebagai salah satu unsur aktiva , lancar dalam neraca yang memiliki perputaran yang cepat dan kurang dari satu tahun. Oleh karena itu banyak hal yang dapat mempengaruhi besarnya piutang tersebut. Menurut Riyanto (2001: 85) faktor – faktor yang mempengaruhi besar kecilnya dana yang di investasikan ke dalam piutang, yaitu :
1) Volume Penjualan kredit Makin besar proporsi penjualan kredit dari keseluruhan penjualan, maka makin besar pula jumlah investasi dalam piutang. Dengan besar volume kredit setiap tahunnya, berarti bahwa perusahaan itu harus menyediakan investasi yang lebih besar lagi dalam piutang.
2) Syarat penjualan kredit Syarat pembayaran penjualan kredit dapat bersifat ketat atau lunak. Apabila perusahaan menetapkan syarat pembayaran yang ketat, berarti bahwa persahaan tersebut lebih mengutamakan keselamatan kredit dari pada pertimbangan profitabilitas dan sebaiknya piutang yang bersifat lunak lebih mengutamakan profitabilitas.
3) Ketentuan tentang pembatasan kredit Dengan penjualan secara kredit, perusahaan dapat menetapkan batas maksimal atau plfond biaya kredit yang akan di berikan kepada pelanggan. Makin tinggi plafond yang di berikan kepada pada pelanggan, makin besar pula dana yang di investasikan ke dalam piutang.
4) Kebijakan dalam penagihan Perusahaan dapat menjalankan kebijakan dalam penagihan secara aktif mapn pasif. Perusahaan yang menjalankan kebijakan aktif dalam menagih piutang akan mempunyai pengeluaran dana yang lebih besar membiayai aktivitas ini, di bandingkan dengan halyang menjalankan kebijakannya secara pasif.
5) Kebiasaan membayar dari pelanggan
Ada sebagian pelanggan yang mempunyai kebiasaan untuk
membayar dengan menggunakan kesempatan mendapatkan cash
discount period, dan ada sebagian yang tidak menggunakan
kesempatan tersebut. Kebiasaan para pelanggan untuk membayar
dalam cash dicount periode atau sesudahnya akan mempunyai
efek terhadap besarnya investasi dalam piutang.
Sebelum perusahaan menyetujui permintaan atau penambahan kredit
oleh pelanggan, perusahaan perlu mengadakan evaluasi terhadap
pelanggan. Ini dilakukan untuk mencegah resiko kredit resiko kredit
yaitu resiko tidak terbayarnya kredit yang telah di berikan.
Cara input bayar piutang
1. Pilih menu PIUTANG (ditandai warna hijau). Piutang disini merupakan hutang yang dilakukan oleh pelanggan. Datanya ada dilajur sebelah kiri layar anda yang ditandai dengan blok warna biru.
2. Isilah dua kolom yang berad dilajur sebelah kiri, yaitu kolom jumlah bayar dan keterangan. Seperti gambar dibawah ini. Pengisiannya diketik secara manual kemudian klik tombol OK.
Demikian penjelasan cara input data hutang pada aplikasi restaurant. Begitu pula dengan caranya yang amat sederhana dan memudahkan pengguna aplikasi kasir. Apabila anda ingin mencoba menggunakan aplikasi restaurant, silahkan kunjungi link berikut ini http://www.software-id.com/software-restoran.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar