Senin, 06 Desember 2021

KOREKSI STOK PADA APLIKASI APOTEK

 


Sistem pencatatan persediaan sangat penting artinya dalam menentukan jumlah dan nilai persediaan pada akhir periode yang digunakan dalam menyusun perhitungan laba rugi dan neraca. Dalam hal ini terdapat dua sistem pencatatan persediaan yang digunakan. 

  1. Sistem Perpetual Dalam sistem ini, setiap perubahan yang terjadi atas persediaan langsung dicatatkan pada perkiraan persediaan, akibatnya perubahan-perubahan yang terjadi akan mempengaruhi persediaan secara langsung. Setiap kali terjadi mutasi unit persediaan baik karena pembelian maupun penjualan, dicatat dalam perkiraan persediaan perusahaan sehingga setiap saat bisa diketahui jumlah dan harga perolehan persediaan barang yang ada di gudang.  Penggunaan metode mutasi persediaan akan memudahkan penyusunan neraca dan laporan laba rugi jangka pendek, karena tidak perlu lagi mengadakan perhitungan fisik untuk mengetahui jumlah persediaan akhir. Walaupun neraca dan laporan laba rugi dapat segera disusun tanpa mengadakan perhitungan fisik atas barang, setidaknya setahun sekali perlu diadakan pengecekan apakah jumlah barang dalam gudang sesuai dengan jumlah dalam rekening dalam persediaan hal ini dimaksudkan untuk menguji keakuratan pembukuan. Sistem persediaan perpetual ini memberikan suatu pengawasan yang lebih baik atas persediaan dan juga informasi yang lebih cepat dan jelas. 
  2. Sistem Periodikal Dalam sistem ini seluruh perubahan yang terjadi dalam persediaan tidak secara langsung dicatatkan pada perkiraan persediaan. Apabila terjadi pembelian persediaan maka transaksi pembelian ini dicatatkan pada rekening pembelian. Karena tidak dilakukan pencatatan secara langsung maka harus dilakukan inventory taking, yaitu suatu perhitungan, pengukuran atau penimbangan barang pada akhir periode akuntansi untuk menetapkan kuantitas barang yang ada dalam perusahaan. Perhitungan persediaan (inventory taking) ini diperlukan untuk mengetahui berapa jumlah barang yang masih ada dan kemudian diperhitungkan harga pokoknya. Karena tidak ada catatan muyasi persediaan barang maka harga pokok penjualan juga tidak dapat diketahui sewaktu-waktu. Harga pokok penjualan baru dapat diketahui apabila persediaan akhir sudah dihitung. 

Penilaian persediaan, terutama pada perusahaan dagang sangat erat kaitannya dengan biaya. Pengertian biaya disini mencakup seluruh pengeluaran atau beban yang timbul secara langsung atau tidak langsung untuk mempersiapkan suatau barang dalam kondisi dan lokasi siap jual. Jika persediaan dinilai dengan dasar harga satuan, menurut IAI (2007) dalam PSAK No. 14 yaitu: Persediaan harus diukur berdasarkan biaya atau nilai realisasi bersih, mana yang lebih rendah (the lower of cost and net realizable value) Dalam hal tertentu,penyimpangan dari penilaian atas dasar harga pokok/perolehan dapat terjadi. Menurut Niswonger dan Fees (1999:406): 

Tetapi dalam situasi tertentu, persediaan bisa dinilai selain harga pokok. Dua situasi semacam itu timbul manakala (1) harga pokok mata persediaan pengganti lebih rendah daripada harga pokok yang dicatat, (2) persediaan tidak dapat dijual pada harga normal karena ketidaksempurnaan, usang, perubahan gaya atau sebab-sebab lain. Untuk itu dalam pembahasan harga satuan barang berikut, akan dibatasi pada harga perolehan (cost bases) seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.terdapat empat metode penilaian persediaan yang umumnya disarankan oleh para ahli. 

Tiga metode penilaian yang umum dan sesuai dengan yang digariskan Ikatan Akuntan Indonesia. 

1) Metode masuk Pertama keluar Pertama (FIFO) metode ini didasarkan pada asumsi bahwa harus dibebankan ke pendapatan sesuai dengan urutan terjadinya, sehingga setiap barang yang dijual merupakan barang yang paling dahulu dibeli. Harga pokok barang yang keluar dibebankan pada harga beli yang paling dahulu, walaupun wujudnya bukan barang yang paling dahulu. Metode penilaian seperti ini, terutama diterapkan pada saat harga cenderung stabil atau menurun, sehingga nilai persediaan pada neraca akan mendekati nilai pengganti dan harga pokok yang dibebankan pada penghasilan benar-benar harga pokok barang-barang yang terjual. Kelebihan lain dari metode ini adalah logis dan realistis mengenai arus biaya. Metode masuk pertama keluar pertama tidak memberi peluang untuk manipulasi laba karena harga pokok ditentukan menurut terjadinya biaya.

2) Metode Masuk Terakhir Keluar Pertama (LIFO) Metode ini beranggapan bahwa harga pokok terbaru dari barang tertentu harus dibebankan kepada harga pokok penjualan, sehingga persediaan dilaporkan sebesar biaya terlama yang paling dini. Metode masuk terakhir keluar pertama khususnya dikembangkan sebagai suatu cara untuk mengurangi dampak perubahan harga terhadap laba bersih dimana sedang terjadi kenaikan harga secara terus-menerus hingga harga pokok barang yang dijual adalah harga yang terakhir kali dibeli dan laba saat itu akan lebih realistis. Namun nilai persediaan pada neraca akan menjadi jauh dari nilai realisasinya (harga sekarang), karena dalam kondisi perubahan harga yang terus meningkat, perubahan harga pada tiap pembelian semakin besar. 

3) Metode Rata-rata Tertimbang Metode ini didasarkan atas anggapan bahwa barang yang dijual harus dibebani biaya rata-rata yaitu jumlah persediaan yang ada dibandingkan dengan harga dari persediaan itu secara keseluruhan. Biaya dari persediaan yang diambil dari gudang untuk dijual dihitung secara rata-rata. 

4) Tujuan Penilaian Persediaan Adalah sangat penting untuk melakukan penilaian persediaan secara tepat, agar persediaan dapat dilaporkan secara wajar dalam laporan keuangan, seperti yang dikemukakan oleh Chasteen, Fleherty, dan O’Connor (1999:476) bahwa: Proper identification and valuation of inventory items are important because inventory can habe a material effection both the balance sheet and the income statement. Inventory may be one of the most significant assets, in dollar amount, reported on the balance sheet of manufacturing and merchandising companies. Menurut Hendriksen (1999: 2-3) adalah: Tujuan penilaian persediaan adalah usaha untuk menandingkan biaya dengan pendapat yang berkaitan dalam rangka menghitung laba rugi bersih. Menyajikan nilai barang untuk perusahaan, dan menyajikan informasi mengenai persediaan yang akan membantu investor serta pemakai lainnya untuk memprediksi arus kas di masa yang akan datang.  

 

Cara koreksi stok barang

1. Pilih menu back office, kemudian koreksi stok. Klik TAMBAH pada pojok kiri bawah layar anda.



2. Selanjutnya akan muncul data seperti dibawah ini isilah nomor referensi, tanggal serta lokasi barang. Untuk nomor referensi seperti biasa sudah secara otomatis terisi. Sementara untuk tanggal dan lokasi diisi dengan menggunakan icon pilihan yang berbentuk segitiga terbalik pada ujung masing-masing kolom. 


3. Selanjutnya tekan enter pada kolom nama barang, maka akan muncul data barang secara keseluruhan. Jika nama barang telah ditemukan maka double klik. Selanjutnya klik tombol SIMPAN yang berada dipojok kiri bawah layar anda. 



4. Inilah stok barang yang telah dikoreksi, pada contoh stoknya masih kosong.


5. Apabila data telah berhasil disimpan maka akan muncul notifikasi seperti gambar dibawah ini, klik OK.




Demikian penjelasan koreksi stok pada aplikasi apotek. Begitu pula dengan caranya yang amat sederhana dan memudahkan pengguna aplikasi apotek. Apabila anda ingin mencoba menggunakan aplikasi apotek, silahkan kunjungi link berikut ini http://www.software-id.com/aplikasi-kasir.html.

Related post:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar