Senin, 18 Juli 2022

INPUT DATA SPARE PART PADA APLIKASI BENGKEL



Sistem Kontrol Persediaan Sistem kontrol persediaan dikenal dengan istilah kebijakan replenishment yang terdiri dari 2 kebijakan, yaitu : 

A. Periodic Review System Dalam sistem persediaan periodic review dilakukan monitoring dan pantauan terhadap tingkat interval pada inventory pada interval waktu (T) yang sama. Biaya dari peninjauan lebih murah karena dilakukan secara periodik. Namun, jika terjadi kekurangan stok saat tidak terjadi peninjauan maka tidak dapat dilakukan tindakan apapun sehingga akan terjadi shortage. Oleh karena itu, untuk menghindari adanya stockout harus disediakan stok pengaman dalam jumlah besar. Namun, safety stock dalam jumlah besar akan berpengaruh terhadap biaya penyimpanan yang dikeluarkan. Berikut ini merupakan jenis kebijakan perencanaan persediaan dari periodic review system (Santoso, 2017). 
  1. a. Periodic-Review, Order-Up-to-Level (R,S) System Sistem ini diketahui juga sebagai replenishment cycle system yang umum digunakan terutama di perusahaan yang tidak menggunakan pengendalian komputer. Sistem ini sering digunakan ketika item dipesan dari pemasok yang sama atau memerlukan pembagian sumber daya. Prosedur pengedalian dilakukan setiap R unit waktu. Pada saat melakukan review, pemesanan dilakukan agar posisi persediaan naik hingga mencapai level S. Sistem ini dapat memberikan penghematan terhadap biaya pengiriman karena koordinasi pengisian yang dilakukan. Sistem ini juga memberikan kesempatan untuk mengatur order-up-to level S yang diinginkan jika pola permintaan berubah seiring dengan 19 waktu. Namun, kelemahan dari sistem ini yaitu biaya penyimpanan yang lebih besar dibandingkan dengan sistem continuous review. 
  2. b. (R,s,S) System Sistem ini merupakan kombinasi dari sistem (s,S) dan (R,S). Pokok utama dari sistem ini yaitu pemeriksaan posisi persediaan dilakukan setiap R unit waktu. Jika posisi stok tepat berada atau di bawah reorder point maka dilakukan pemesanan agar posisi persediaan naik hingga level S. Namun, jika posisi stok di atas reorder point maka tidak dilakukan pemesanan hingga review selanjutnya. 

Biaya Persediaan Menurut (Ristono A. , 2009), biaya persediaan dapat dibedakan atas : 

a. Ongkos pembelian (purchase cost) Ongkos pembelian adalah harga per unit apabila item dibeli dari pihak luar, atau biaya produksi per unit apabila diproduksi dalam perusahaan atau dapat dikatakan pula bahwa biaya pembelian adalah semua biaya yang digunakan untuk membeli suku cadang. Penetapan dari biaya pembelian ini tergantung dari pihak penjualan barang atau bahan sehingga pihak pembeli hanya bisa mengikuti fluktuasi harga barang yang ditetapkan oleh pihak penjual. 

b. Ongkos pemesanan atau Biaya persiapan (order cost/set up cost) Ordering cost adalah biaya yang dikeluarkan sehubungan dengan pemesanan barang ke supplier. Besar kecilnya biaya pemesanan sangat tergantung pada frekuensi pesanan, semakin sering memesan barang maka biaya yang dikeluarkan akan semakin besar dan sebaliknya. Biaya pemesanan secara terperinci meliputi : 

1. Biaya persiapan pesanan, antara lain : 

  • a) Biaya telepon atau ongkos menghubungi supplier 
  • b) Pengeluaran surat menyurat 

2. Biaya penerimaan barang, seperti : 

  • a) Biaya pembongkaran dan pemasukan ke gudang 
  • b) Biaya laporan penerimaan barang 
  • c) Biaya pemeriksaan barang atau biaya pengecekan 

3. Biaya pengiriman pesanan ke gudang 

4. Biaya-biaya proses pembayaran, seperti biaya pembuatan cek, pengiriman cek atau biaya transfer ke bank supplier, dan sebagainya. 

c. Ongkos Simpan (carrying cost/holding cost/storage cost) Ongkos simpan adalah biaya yang dikeluarkan atas investasi dalam persediaan dan pemeliharaan maupun investasi sarana fisik untuk menyimpan persediaan, atau dapat pula dikatakan biaya yang timbul akibat penyimpanan barang maupun bahan (diantaranya: fasilitas penyimpanan, sewa gudang, keusangan, asuransi, pajak dan lain-lain). Yang termasuk dalam biaya simpan antara lain: 

  • 1. Biaya sewa atau penggunaan gudang.
  • 2. Biaya pemeliharaan barang. 
  • 3. Biaya pemanasan atau pendinginan, bila untuk menjaga ketahanan barang dibutuhkan faktor pemanas atau pendingin. 
  • 4. Biaya menghitung dan menimbang barang 

d. Biaya kekurangan persediaan (stockout cost) Dengan kekurangan persediaan maka biaya yang timbul adalah sebagai berikut: 

  • 1. Kehilangan pendapatan. 
  • 2. Selisih harga komponen. 
  • 3. Terganggunya operasi.

 

Cara input spare part

1. Pilih menu master kemudian klik barang, serta pilih TAMBAH yang berada dipojok kiri bawah layar anda. 



2. Selanjutnya akan muncul data seperti gambar dibawah ini. Isilah kolom-kolom pada bagian standard dengan cara ketik manual. Kecuali pada kolom supplier, kategori, golongan serta mata uang. diisi dengan cara klik icon berbentuk segitiga terbalik yang berada dimasing-masing ujung sebelah kanan kolom. Namun jika mendapati icon bertanda plus atau tambah, memiliki fungsi untuk menambahkan data yang belum tersedia pada daftar icon berbentuk segitiga. 




3. Terakhir klik SIMPAN apabila data sudah dipastikan telah sesuai. 



Demikian penjelasan input data spare part pada aplikasi bengkel. Begitu pula dengan caranya yang amat sederhana dan memudahkan pengguna aplikasi bengkel. Apabila anda ingin mencoba menggunakan aplikasi bengkel, silahkan kunjungi link berikut ini http://www.software-id.com/aplikasi-kasir.html.

Related post:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar